Jalin Silaturokhim dengan Qoryah Toyyibah



Tanggal 13 Januari 2013 adalah awal Cahaya baru bagi Taman Tauhid untuk menjalin kerjasama dengan Qoryah Toyyibah di Tingkir, Salatiga. Hari Minggu Bersama-sama Kumpul di Smansa, bersama anak-anak SKI. Pukul 08.30 sekitar pukul 09.00 kita berangkat bersama . Sesampainya di SMANSSA rupanya sahabat-sahabat kita di SKI memiliki kepentingan untuk Doa Bersama sebagai panitia untuk Persiapan Try Out . Kemudian kita bersama-sama kita menuju Terminal Tingkir karena Widi dan Anak-anak Taman Tauhid di Terminal tingkir. Setelah itu kita bersama-sama menuju QT. Bapak Furqon sudah di QT insyaalloh pukul 09.00. Diperkirakan Dzuhur kita selesai. Kemudian hasil dari QT bersama Diah dibahas untuk pembuatan Standard Kurikulum Taman Tauhid Selama 1 tahun. Dan penyusunan Kalender Akademik Taman Tauhid. Dari situlah nanti Teman-teman dari STAIN dan SKI Se Salatiga dapat berkonstribusi dan ikut serta dalam membangun taman tauhid di waktu yang sudah bisa dijadwalkan.


Ruang Perpustakaan QT
Ruang Perpustakaan QT

Ahmad Bahruddin, penggagas dan “kepala sekolah” Qoryah Thoyyibah (QT) mendapatkan penghargaan “Ma’arif Award” dari Ma’arif Institute dan menjadi tamu di acara Metro TV, Kick Andy pada 1 Juni 2012. Bahruddin sendiri lebih suka menamakan “sekolah”-nya “Komunitas Belajar” dan inilah yang sebenarnya inti dari sekolah efektif. “Effective schools are learning communities.” (Department of Education & Training, Melbourne, 2005) Kang Din, panggilan akrab untuk Ahmad Badruddin di desa Kalibening, Salatiga, memang sosok yang berani melawan arus besar pendidikan di negeri kita, yang menurutnya terjebak pada keasyikan pada hal-hal yang berbau formalitas tanpa makna dan lalai pada substansi. Kurikulum sekolah, silabus, RPP, pembelajaran, dan kebijakan sekolah yang lebih menekankan pada konformitas dipandangnya lebih banyak mengebiri dari pada memberi peluang seluas-luasnya bagi pertumbuhan dan perkembangan potensi siswa.

Ruang Komputer dan Internet QT
Ruang Komputer dan Internet QT


Semua yang dilakukan QT bertumpu pada upaya “memanusiakan” atau memberdayakan siswa. Menurut logika QT, mau seragam atau tidak siswa lah yang berhak penuh untuk mengatur diri mereka sendiri. Kalau mereka putuskan untuk berseragam, berseragamlah mereka. Jika mereka tak mau berseragam tidak boleh ada yang berhak memaksa. Kurikulum “sekolah” adalah kurikulum siswa karena mereka yang berkepentingan belajar. Terserah siswa apa yang mereka mau pelajari, kapan, di mana, mengapa dan bagaimana mereka belajar. Jadi, jadual pun siswa yang atur, tidak “dipaksakan” oleh guru, tapi guru yang mengikuti apa yang dimaui siswa. Tidak ada artinya jika siswa mau mengenakan seragam, tapi terpaksa. Demikian juga, bisakah mendapatkan hasil belajar yang optimal dari proses pembelajaran yang “didektekan” sekolah, sementara siswa tidak memiliki motivasi intrinsik untuk memberikan hati dan otaknya pada pelajaran. Bukankah kecerdasan tidak lagi dipahami sebagai IQ, sebagaimana diungkap oleh Gardner, yang hanya mengacu pada kecerdasan logika bahasa dan matimatik? Haruskah sekolah model pabrikan yang sudah bercokol selama lebih dari satu setengah abad tetap dipertahankan? Tidakkah sekolah perlu menyesuaikan perkembangan zamannya?


Lantai 2 untuk belajar Musik di QT
Lantai 2 untuk belajar Musik di QT


Anehnya di sekolah-sekolah yang “bagus” dikelola berbasis manajemen semata tanpa ‘school leadership’ dan ‘school culture’ yang kuat. Alkhamdulillah sekarang Taman Tauhid Menggandeng Qoryah Toyyibah sebagai Sahabat untuk kemajuan bangsa. Taman Tauhid dapat ikut menggunakan Sarana Prasarana QT, dan Saling Mengisi dalam Pengembangan Sistem Pendidikan bahkan Ekonomi dan Bisnis.


Kerjasama di bidang Ekonomi dan Bisnis Taman Tauhid dan Qoryah Toyyibah
Kerjasama di bidang Ekonomi dan Bisnis Taman Tauhid dan Qoryah Toyyibah


Sebenarnya Bapak Bahruddin sudah menunggu kami sejak pukul 09.00 di QT, namun kami datang sampai disana pukul 10.00an pagi, dikarenakan perjalanan dan saling tunggu menunggu di jalan, bahkan sempat salah tempat. Akhirnya kami tidak berjumpa dan berjumpa dengan Dewan Komitenya. Akhirnya kami banyak belajar kepada beliau. Terjalinlah hubungan yang harmonis sampai kami sholat dhuhur disana. Dan pulang pukul 02.00 WIB. Bapak Furqon Amin tidak jadi ikut karena sudah janjian akan pergi ada keperluan ke Semarang.


Alkhamdulillah semoga perjalanan ini menjadi saksi dan bekal untuk kepulangan kami di akherat nanti. 

Taman Tauhid
Cinta Alloh Cinta Rosululloh Cinta Sesama

0 comments: